" Kontes ReviewMu (berhadian domain gratis)"


Ada Sekilas info yang kudapatkan baru saya dari situs nya bang Gueadi. Sebener nye sih telat bin banget soal nye nape, nih info dah nongol di situs nya bang Guedi selama dua minggu and baru tahu hari ini. Sebernye napa sih gue kok ngomongin ini, soal nya disitus nya mas Gueadi ngadain Lomba Review me “ Review situs bang Gueadi”. Soal nya baru tahu sih ya gini deh, “ kebelet pipis ”, eh bukan. Disitus nya bang Gueadi ngasih domain gratis bila menang, domain nya” info”.Lumayan lah, eh ngak lumayan sih, tapi ya alhamdulillah.





Dalam kontes Review me ini diadakan 3 sesi, sayang sesi pertama aku ngak ikutan, soal nya dah tahu kan diatas, (sebel rasanya). Pertandingan pertama sih menurut post nya bang Gueadi belum ada yang menang, berarti kesempatan doing gue untuk ikut an ,“Yeeesss”.

Peraturan-peraturan yang harus dimasukkan ke dalam lomba adalah :

1. Menjadi Fans Saya Di Facebook nih alamat link nya http://www.facebook.com/pages/Gueadi/109842353599
2. Menulis Sedikit Review Tentang Blog Ini
3. Serta Menyertakan Link nya mas Gueadi.link nya nih http://4dyxtm.blogspot.com/2009/08/blog-sederhana-wwwgueadiinfo.html
Ayo buruan siapa yang mau ikut , dibelakang saya ” kayak apa aja sih” buruan daftar n kita bertanding bareng 2, mungkin saja bias menang. Read More......

Meteor Perseid..

TADI MALAM SIAPA YG LIAT METEOR PERSEID??
ni gambar dari mbah google yang aku contek hihiihi.....



Berdasarkan sumber yg aku dapet..tadi malam mustine ada ujan meteor perseid tiap jam 140 meteor..dari arah timur laut mulai jam 22.00 sampai menjelang subuh..

Sayangnya di tempat ku terjadi mendung yg mengganggu sampai2 satu bintangpun ngga nongol..langit mendung ni ngga cuma terjadi di daerahku..berdasarkan survey yg ku lakukan di daerah Sukoharjo,and Banyudono juga terjadi mendung..waduh..kenapa terjadi mendung masal kaya gini yua??

Tapi untunge ku masi sempet liat satu ekor meteor..lumayan..itupun penuh perjuangan..ku musti bangun tidur,tidur lagi,trus bangun (lagune mbah surip)..bwt liat meteor.. akhirnya..........menjelang subuh aku pas kluar rumah liat juga hihihiihhi...senengnya.... :D B-) bangga kie.. :P Read More......

Jaket Biru...???

Sabtu menjelang tengah malam.....

Aku bertemu dengan seorang gadis
bertemankan angin malam yg dingin
kita berkenalan tuk mengenal satu sama lain
kumu...!!!teman-temannya biasa memanggil
anak smk sahid kelas tiga

Malam berhiaskan bau alkohol dan asap rokok
terdengar senandung lirih meng-gema di udara
pikirankupun sudah setengah sadar
kita saling bercanda melepas tawa

Malam semakin dingin
tanpa sadar akupun melepas jaketku
lalu keberikan padanya
karena ku lihat dia menggigil kedinginan

Entah apa karena pengaruh alkohol
atau memang aku stupid boy
yg rela memberikan jaketnya
padahal dia sendiri kedinginan

Dia begitu ramah, lucu, dan
enak tuk diajak bicara.
terus terang aku menaruh hati padanya
aku ingin dia tahu isi hati ini

Tetapi tak terasa
waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi
dia pun pulang...
dengan membawa serta jaket biru milikku
dan berharap aku kan bertemu lagi dengannya

Tuhan aku harap semua ini bukan hanya sekedar mimpi
hingga saat aku terbangun semua itu sirna
Yo wis-lah toh semua tlah terjadi
tapi jika dia dan aku berjodoh
dia kan datang padaku membawa jaket biruku...!!! Read More......

Kepiawaian Si Burung Merak

Sastrawan WS Rendra meninggal dunia di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis 6 Agustus 2009 pukul 22.10. Ia menderita penyakit jantung koroner. Dimakamkan setelah shalat Jumat 7 Agustus 2009 di TPU Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok.



Sebelumnya, ia dirawat di Rumah Sakit Cinere sejak 25 Juni. Namun, karena kondisinya tak kunjung membaik, Rendra lalu dirujuk dirawat di RS Harapan Kita di Jakarta Barat, sebelum akhirnya ke RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading.



Meski usianya 70-an tahun, kepak sayap si penyair berjuluk "Si Burung Merak" ini masih kuat dan tangkas. Suaranya masih lantang dan sangatlah mahir memainkan irama serta tempo. Kepiawaian pendiri Bengkel Teater, Yogyakarta, ini membacakan sajak serta melakonkan seseorang tokoh dalam dramanya membuatnya menjadi seorang bintang panggung yang dikenal oleh seluruh anak negeri hingga ke mancanegara.

WS Rendra mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Menekuni dunia sastra baginya memang bukanlah sesuatu yang kebetulan namun sudah menjadi cita-cita dan niatnya sejak dini. Hal tersebut dibuktikan ketika ia bertekad masuk ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada selepas menamatkan sekolahnya di SMA St.Josef, Solo. Setelah mendapat gelar Sarjana Muda, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di American Academy of Dramatical Art, New York, USA.

Sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tersebut, ia telah giat menulis cerpen dan essei di berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Di kemudian hari ia juga menulis puisi dan naskah drama. Sebelum berangkat ke Amerika, ia telah banyak menulis sajak maupun drama di antaranya, kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta serta Empat Kumpulan Sajak yang sangat digemari pembaca pada jaman tersebut. Bahkan salah satu drama hasil karyanya yang berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) berhasil mendapat penghargaan/hadiah dari Departemen P & K Yogyakarta.

Sekembalinya dari Amerika pada tahun 1967, pria tinggi besar berambut gondrong dengan suara khas ini mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Memimpin Bengkel Teater, menulis naskah, menyutradarai, dan memerankannya, dilakukannya dengan sangat baik.

Karya-karyanya yang berbau protes pada masa aksi para mahasiswa sangat aktif di tahun 1978, membuat pria bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra, ini pernah ditahan oleh pemerintah berkuasa saat itu. Demikian juga pementasannya, ketika itu tidak jarang dilarang dipentaskan. Seperti dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

Di samping karya berbau protes, dramawan kelahiran Solo, Nopember 1953, ini juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah seperti puisinya yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya.

Banyak lagi karya-karyanya yang sangat terkenal, seperti Blues untuk Bonnie, Pamphleten van een Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, Mencari Bapak. Bahkan di antara sajak-sajaknya ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Demikian juga naskah drama karyanya banyak yang telah dipentaskan, seperti Oedipus Rex, Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan lain sebagainya.

Sajaknya yang berjudul Mencari Bapak, pernah dibacakannya pada acara Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta. Ketika itu penampilannya mendapat perhatian dan sambutan yang sangat hangat dari para undangan. Demikianlah salah satu contohnya ia secara langsung telah berjasa memperkenalkan sastra Indonesia ke mata dunia internasional.

Beberapa waktu lalu, ia turut serta dalam acara penutupan Festival Ampel Internasional 2004 yang berlangsung di halaman Masjid Al Akbar, Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 22 Juli 2004. Dalam acara itu, ia menyuguhkan dua puisi balada yang berkisah tentang penderitaan wanita di daerah konflik berjudul Jangan Takut Ibu dan kegalauan penyair terhadap sistem demokrasi dan pemerintahan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, lelaki yang akrab dipanggil Willy ini didampingi pengusaha Setiawan Djody membacakan puisi berjudul Menang karya Susilo Bambang Yudhoyono.

Prestasinya di dunia sastra dan drama selama ini juga telah ditunjukkan lewat banyaknya penghargaan yang telah diterimanya, seperti Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1957, Anugerah Seni dari Departemen P & K pada tahun 1969, Hadiah Seni dari Akademi Jakarta pada tahun 1975, dan lain sebagainya.

Menyinggung mengenai teori harmoni berkeseniannya, ia mengatakan bahwa mise en scene tak lebih sebagai elemen lain yang tidak bisa berdiri sendiri, dalam arti ia masih terikat oleh kepentingan harmoni dalam pertemuannya dengan elemen-elemen lain. Lebih jelasnya ia mengatakan, bahwa ia tidak memiliki kredo seni, yang ada adalah kredo kehidupan yaitu kredo yang berdasarkan filsafat keseniannya yang mengabdi kepada kebebasan, kejujuran dan harmoni.

Itulah Rendra, si bintang panggung yang selalu memukau para penontonnya setiap kali membaca sajaknya maupun melakoni dramanya. Read More......

test

test ujicoba


Powered by Qumana


Read More......